Berita Indonesia

Kursi Roda Untuk Mutiara

Layaknya gadis kecil lainnya yang memiliki keceriaan dunia anak-anak, siang itu Mutiara (6) yang mengenakan seragam sekolah merah putih asyik bercengkrama dengan teman sekolahnya.

"Mutiara Anugrah Putri," kata anak taman kanak-kanak (TK) A Yayasan Penderita Anak Cacat (YPAC) Semarang ini, cekatan saat ditanya namanya.

Anak keempat Retno (44), warga Pusponjolo, Kelurahan Bojong Salaman, Semarang Barat ini baru saja selesai mencoba kursi roda khusus untuk fisioterapi bagi penderita celebral palsy atau gangguan fungsi syaraf yang menghambat kinerja organ tubuh.

Gadis kecil berambut lurus sepundak ini memang sudah mengalami banyak perubahan setiap tahunnya setelah dia menjalani terapi sejak usianya menginjak 1,5 tahun.

"Setiap tahun, selalu ada peningkatan. Mutiara lahir prematur saat usia kandungan 5,5 bulan dengan berat badan 12 ons," kata Retno.

Retno mengaku, sejak lahir Mutiara mendapat perlakuan spesial seperti harus `dimandikan` sinar matahari pagi agar kuat, dan kemudian menjalani terapi jongkok dan berdiri.

"Dulu, leher Mutiara membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa menupang kepala," katanya sembari mengelus leher bagian belakang putri terakhirnya.

Saat ini, ujar Retno, Mutiara hanya menunggu waktu agar bisa berjalan seperti teman sebayanya. Kaki kiri Mutiara tinggal menunggu waktu untuk bisa tegak berdiri. Sejak lahir Mutiara tidak bisa berdiri apalagi berjalan.

Harapan itu sangat jelas terpancar dari mata Retno yang berharap mendapatkan jatah kursi roda khusus fisioterapi bantuan dari United Cerebral Palsy (UPC) Wheels for Humanity, California, Amerika Serikat, yang disalurkan ke YPAC Semarang.

"Sudah setahun lalu, saya mengirimkan data Mutiara ke YPAC dan saya bersyukur sekali akhirnya tadi Mutiara sudah mencoba kursi rodanya," katanya.

Ketua Umum YPAC Nasional, Fatimah P.Sidharta Soerjadi di sela acara penyerahan donor kursi dari UPC di Semarang, Kamis (27/11) menjelaskan bahwa tahun ini jumlah kursi roda yang diterimanya ada 170 unit, di antaranya 110 kursi roda standar, 17 kursi roda khusus untuk penderita Celebral Palsy, dan 37 kursi roda anak-anak.

"Sumbangan gratis dari UPC tersebut untuk YPAC dan mitra," kata Fatimah.

Fatimah menjelaskan, kursi roda tersebut selain untuk YPAC dan lembaga mitra, perseorangan juga bisa mendapatkannya dengan menghubungi YPAC setempat.

"Ya, kita hanya mengenakan biaya administrasi pengeluaran dari pelabuhan, transportasi, dan keamanan. Untuk kursi roda anak satu kursinya Rp500 ribu dan untuk kursi standar Rp200 ribu. Harga itu, jauh lebih murah dari yang ada di pasaran," katanya.

Ketua YPAC Kota Semarang, Siti Handayu Pranowo mengatakan jumlah seluruh siswa YPAC yang berdiri tahun 1954 itu ada 225 anak, 76 di antaranya adalah penderita Cerebral Palsy yang masuk Sekolah Luar Biasa (SLB) D. Sedangkan untuk penderita Rethaldasi Mental (Tuna Grahita) masuk SLB C.

"Sayangnya belum semua penderita Cerebral Palsy menerima kursi roda. Karena barangnya sedikit, maka kami utamakan yang kebutuhannya mendesak," kata Handayu.

David Richard yang juga Presiden UCP, mengatakan kursi roda khusus untuk penderita Cerebral Palsy sangatlah penting karena selain untuk memudahkan, juga sekaligus terapi.

Ia mengatakan, kursi roda tersebut dapat disesuaikan dengan ukuran si penderita. Setiap hari, penderita wajib melakukan terapi dengan kursi roda selama satu jam.

"Kami telah melakukan aksi ini di 78 negara di Eropa, Afrika dan Asia. Ini khusus untuk penderita yang tidak mampu, karena harganya sangat mahal, sekitar 3.500 dolar AS," kata David.

Cerebral Palsy (CP, kelumpuhan otak besar) adalah suatu keadaan yang ditandai dengan buruknya pengendalian otot, kekakuan, kelumpuhan dan gangguan fungsi saraf lainnya. Celebral Palsy bukan merupakan penyakit dan tidak bersifat progresif (semakin memburuk), dan umumnya menyerang bayi yang terlahir prematur.

Kasus Celebral Palsy terjadi pada 1-2 dari 1.000 bayi dan 10 kali lebih sering ditemukan pada bayi prematur dan lebih sering ditemukan pada bayi yang sangat kecil. Bayi prematur sangat rentan terhadap Celebral Palsy, kemungkinan karena pembuluh darah ke otak belum berkembang secara sempurna dan mudah mengalami perdarahan atau karena tidak dapat mengalirkan oksigen dalam jumlah yang memadai ke otak.

Celebral Palsy bisa disebabkan oleh cedera otak yang terjadi pada bayi yang masih berada dalam kandungan, proses persalinan, bayi baru lahir, dan anak berumur kurang dari 5 tahun. Tetapi kebanyakan penyebabnya tidak diketahui. Sepuluh persen-15 persen kasus terjadi akibat cedera lahir dan berkurangnya aliran darah ke otak sebelum, selama dan segera setelah bayi lahir.

Gejala yang dapat dilihat dari penderita Celebral Palsy biasanya timbul sebelum anak berumur dua tahun dan pada kasus yang berat, bisa muncul pada saat anak berumur tiga bulan. Gejalanya bervariasi, mulai dari kejanggalan yang tidak tampak nyata sampai kekakuan yang berat, yang menyebabkan perubahan bentuk lengan dan tungkai sehingga anak harus memakai kursi roda.

Para penderita Celebral Palsy tidak dapat disembuhkan, dan merupakan kelainan yang berlangsung seumur hidup. Tetapi banyak hal yang dapat dilakukan agar anak bisa hidup semandiri mungkin. Namun, jika tidak terdapat gangguan fisik dan kecerdasan yang berat, banyak anak penderita Celebral Palsy yang tumbuh secara normal dan masuk ke sekolah biasa.

Dan, salah satu penderitanya adalah Mutiara, yang kini tampak bahagia dengan kursi rodanya.

Ref : Vibiz Daily-Sosial

0 comments:

Leave a Reply

Resent Post

RSS Daily News